Kamis, 27 Agustus 2015

Lebih Susah Mencari Calon Ibu Dibandingkan Istri?

istri dan calon ibu
Sejatinya peran seorang wanita adalah sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu bagi anaknya. Mencari seorang istri ternyata jauh lebih mudah dibandingkan mencari seorang ibu bagi anak kita kelak. Apa Anda sepakat?

Mencari seorang istri berarti mencari wanita yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita. Bisa jadi gambaran kita tentang wanita yang ideal berperan disini. Wanita yang cantik, tinggi, berkulit putih, langsing, muka cling, dan imajinasi tentang kecantikan wanita lainnya. 

Namun, apakah itu saja cukup untuk menjadikan keluarga kita bahagia?

generasi yang baik
Ternyata tidak. Menelisik lebih jauh, fungsi pernikahan tidak hanya sebagai pemersatu cinta, menghalalkan yang tadinya haram namun lebih jauh dari itu. Peran menikah untuk melahirkan generasi-generasi tangguh yang siap menjadi khalifah di bumi. Tentu kita tak mau bukan, anak-anak yang kita lahirkan kelak menjadi perusak bumi. Justru kita sangat berharap melalui anak-anak kitalah kemakmuran di bumi ini dapat tercapai.

Peran mulia itu tidak hanya bisa seketika terlaksana. Perlu perencanaan dan pemilihan yang matang. Salah satu hal yang penting adalah memilih pasangan yang baik dan bisa menghantarkan kita membina generasi yang lebih baik tadi.

Nah, kembali ke topik pembahasan. Mencari pendamping hidup harus benar-benar diawali dengan niat yang mulia. Tidak semata-mata karena nafsu syahwatnya saja. Tidak cukup seorang wanita menjadi istri yang baik, namun juga harus menjadi ibu yang baik.

Mencari calon ibu yang baik, menurut saya jauh lebih susah dibandingkan mencari istri yang baik. Seorang ibu yang baik dituntut memiliki ketrampilan ekstra untuk mendidik anak-anak kita dan membekalinya dengan ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk dunia namun juga akhiratnya kelak. 

Calon ibu seperti ini rela mengorbankan waktunya untuk sekedar lama berbelanja di mall, lama melakukan perawatan diri di salon dan memilih untuk meluangkan waktu sebanyak-banyaknya dengan buah hatinya. Maka, pendidikan bagi seorang calon ibu menjadi hal yang penting pula. Kesadaran akan perannya sebagai seorang ibu bagi anaknya mutlak diperlukan. Sekaligus menjadi seorang istri yang taat bagi suaminya.

Fenomena maraknya wanita cantik belakangan ini sepertinya perlu dibarengi dengan fenomena calon ibu yang baik. Jadi, cantik, menarik, smart dan rela menjadi pendidik terbaik bagi anak-anaknya. Tentu menjadi idaman bagi setiap pria yang mendambakan kelengkapan hidup.


But, nobodys perfect! Oleh karena itu, perlu adanya sinkronisasi antara pria dan wanita sebagai suami istri. Mengarungi bahtera kehidupan bersama dengan segala ombak dan angin kencang di setiap perjalanannya. Menjadi pegangan satu sama lain agar tetap kokoh, kuat berdiri menjalankan nahkoda kehidupan.

Pembahasan ini sesungguhnya tidak hanya dilihat dari satu sisi namun dua sisi dalam mata koin. Mencari calon ayah juga lebih susah dibandingkan suami? 

Oleh karena itu, sebelum menikah, mari luangkan waktu untuk belajar menjadi calon ayah dan calon ibu yang baik bagi anak-anak kita. Setidaknya bekal ilmu, pengetahuan dan pengalaman dari orang lain dapat kita serap, kita ambil sisi posisitfnya dan selanjutnya kita terapkan pada anak-anak kita. Tujuannya satu, ikut andil dalam melahirkan generasi yang lebih baik.

Rabu, 26 Agustus 2015

Perbedaan Level Ujian Manusia

life is a problem, really?
Setiap manusia pasti punya masalah. Sejak lahir hingga lanjut usia, manusia akan dihadapkan dengan berbagai masalah. Tentu masalah itu sesuai dengan usia, pola pikir dan kemampuan dari masing-masing. Sehingga, setiap orang akan mendapat masalah sesuai dengan porsinya masing-masing.

Masalah ini ibarat ujian. Ujian yang diberikan tentu sesuai dengan proses belajar masing-masing. Ada yang usianya sama namun pola pikirnya lebih dewasa.Orang seperti ini wajar jika mendapat ujian yang lebih berat dari rekan seusianya. 

hidup itu pilihan bukan?

Ujian ini lazim kita sebut dengan ujian kehidupan. Ujian ini mendorong kita untuk melakukan pilihan-pilihan secara tepat. Ujian kehidupan melahirkan proses belajar terus menerus sepanjang hidup ini. Jika kita tak lolos, maka jangan heran jika ujian itu bisa diujikan lagi pada diri diri kita. Hingga kita lolos ujian tersebut. 

Pernahkan, kita merasa sudah pernah melewati ujian lalu kembali menghadapi ujian yang sama? Bisa jadi pada ujian yang lalu kita tidak lolos. Nah, ayo ingat kembali saat sedang menghadapi ujian!

Jika kita berada di bangku sekolah, maka soal ujian tidak akan lepas dari materi yang diajarkan oleh bapak/ibu guru dan buku pedoman yang ada. Untuk ujian kehidupan ini berarti ada juga materi yang diajarkan dan buku pedoman yang harus dipelajari. 

Yep, buku pedoman itu adalah Al Quran dan Hadits. Lalu siapa yang mengajarkannya? Pastinya tuntunan kita, Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam. 

Artinya, apa yang diujikan dalam kehidupan sehari-hari ini ada jawabannya di dalam Al Quran dan telah diimplementasikan oleh Rasulullah. Rasulullah adalah contoh nyata penerapan ilmu yang ada di dalam Al Quran. Al Quran adalah pedoman sepanjang masa, untuk siapa saja yang mau mengamalkannya. Pedoman ini tak pernah usang oleh waktu, tak akan lekang oleh zaman. 

Lalu, apa kaitannya dengan judul diatas?
mempelajari Al Quran

Ternyata, perbedaan level ujian manusia itu menentukan peringkat kita dihadapan Sang Khaliq. Jika saat ini kita sedang menghadapi ujian yang lebih berat dari orang lain, maka kita berpotensi memiliki peringkat yang tinggi. Catatannya, kita harus lolos dari ujian tersebut.

Maka, jangan sampai kita tak pernah menjalankan apa yang ada di pedoman hidup (Al Quran) tersebut lantas kita tak mendapat cobaan yang berat lalu kita merasa bahagia. Ini perlu diwaspadai. Bisa jadi karena kita tak pernah mempelajari dan mengamalkan pedoman tersebut, lalu kita tak akan pernah diuji lagi. Jika ini yang terjadi, apa bedanya dengan kita sudah tak dihiraukan lagi. Waspada!

Di sisi lain, ada orang yang mempelajari dan mengamalkan pedoman hidup sekuat tenaga namun malah diberi ujian yang berat. Jika orang ini tetap istiqomah dan lolos dari ujian, maka jangan ditanyakan lagi peringkatnya. Pasti tinggi melebihi yang lain. 

Oleh karena itu, jangan heran jika orang yang sholeh pun pasti memiliki masalah dan ujian yang berat. Itulah mengapa ada perbedaan level ujian manusia. Untuk menguji mana orang yang benar-benar mempelajari dan mengamalkan apa yang ada dalam pedoman hidup sepanjang masa tersebut. 

pantaskah kita mengeluh dan berputus asa?
Lalu, seberapa beratkah ujian kita saat ini?
Pantaskah kita mengeluh dan berputus asa sedangkan, banyak orang lain yang sedang diuji dengan ujian yang lebih berat dari kita?
Ayo introspeksi untuk selalu meningkatkan kapasitas diri kita!

resep sabar
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* ditulis sebagai renungan dan memberi semangat bagi diri sendiri yang sedang menghadapi ujian layaknya manusia yang lainnya. Ujian yang masih ringan dan tidak sepantaasnya mengeluh. 
* Semoga diberi kekuatan untuk melewati setiap ujian yang datang dan diberi kesempatan untuk terus mempelajari pedoman hidup sepanjang masa dan mencontoh suri tauladan terbaik.