Rabu, 16 September 2020

Simple Of Life

Hidup itu sederhana


Hidup yang sederhana.

Tadi malam saya menyaksikan seorang Syekh sedang diwawancara oleh yutuber dengan sangat menarik. Menarik dari semua yang diucapkan Syekh tersebut sangat mengena namun sederhana. Memberikan banyak sekali pelajaran dan petuah bijak dengan cara yang santun, tenang, dan sekali lagi sederhana. Kesederhanaan yang bukan hanya dipahami melalui bahasanya yang lugas, mudah diterima namun juga pemikirannya yang berlogika sederhana.

Sosok yang sangat langka dan jarang sekali bisa ditemukan. Hidupnya lillahita'ala hanya mencari keridhoan Allah Subhanahuwata'ala. Caranya, dengan sebanyak-banyaknya mencontoh sikap dan sifat Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam. Apa yang beliau lakukan benar-benar perwujudan nyata contoh perilaku yang diteladankan Rasulullah. Sejauh mana yang beliau pelajari, beliau ajarkan ke para jamaah, beliau amalkan dalam kehidupan sehari-hari. MasyaAllah.

Sedih rasanya hati ketika menengok ke diri sendiri, sejauh mana yang diketahui tentang Muhammad Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam. Pengetahuan tentang sosok suritauladan saja hanya sedikit yang diketahui, apalagi mencontoh. Sangat jauh rasanya. 

Tingkatan kehidupan yang benar-benar berbeda. Jauh sangat berbeda. 

Betapa tawakalnya dengan semua ketentuan Allah dan menjadikannya pegangan dalam menjalani hidup. Sehingga hidupnya terlihat tenang, sederhana dan bersahaja. 

Ternyata.

Hidup itu sederhana.

Minggu, 05 April 2020

Produktif? Siapa Takut!




Kenapa sih kita harus produktif?

Produktif merupakan jalan menuju kesuksesan. Sukses merupakan orang yang memiliki makna dalam menjalani hidup dan bermanfaat bagi orang lain. Orang yang sukses tidak hanya berfokus pada dirinya sendiri namun juga berfokus pada keadaan sekitarnya. Maka sudah sewajarnya, orang yang sukses pastilah memiliki waktu yang produktif. Karena cakupan tujuan hidupnya lebih luas dibandingkan dengan orang yang biasa. 

Lalu, bagaimana agar kita produktif seperti sebagian besar orang sukses diluar sana?

Setidaknya ada 12 kebiasaan yang dapat membuat kita menjadi produktif. 

1. Mengevaluasi Kegiatan

Orang yang produktif senantiasa mengevaluasi apa yang telah dikerjakannya. Apakah kegiatan yang dilakukan telah sesuai dengan target yang direncanakan. Evaluasi ini digunakan untuk mengatur target keesokan harinya. 

2. Mengakui Kesalahan

Orang yang produktif akan selalu mengakui apa yang tidak dikerjakan sesuai dengan target. Mereka akan  mengevaluasi mengapa hal tersebut tidak terlaksana dan mencari solusi untuk menyelesaikan hal tersebut. Mengakui kesalahan, mencari jalan keluar dan menyelesaikannya selalu dilakukan untuk perbaikan kedepan. 

3. Merencanakan

Setelah mengevaluasi kegiatan yang dilakukan dan yang tidak dilakukan, orang yang produktif akan membuat rencana. Merencanakan kegiatan yang akan dilakukan kedepan dan target yang akan dicapai. Rencana yang dibuat harus jelas dan nyata disertai dengan langkah-langkah dlam mengerjakannya. Sehingga ketika waktunya tiba, mereka tidak akan bingung berpikir berkali-kali bagaimana cara melakukannya. 

4. Mengantisipasi Tantangan

Orang yang produktif tidak melihat maslah sebagai suatu hambatan, namun suatu tantangan yang harus ditaklukan. Mereka akan mengantisipasi tantangan yang kemungkinan bisa hadir dalam setiap kegiatan dan menemukan solusi atas tantangan tersebut. Itulah mengapa orang yang produktif tidak mudah menyerah dan putus asa. Bagi mereka akan selalu ada solusi disetiap tantangan.

5. Menulis Sistematis

Orang yang produktif akan menulis rencana, target dan setiap langkah yang akan mereka lakukan secara sistematis. Hal ini membuatnya lebih jelas dan fokus. Mereka tidak akan menyimpan semuanya dikepala. Alih-alih jelas, justru akan membuat sebagai beban. Dengan menuliskannya, beban akan menjadi peta arahan sebagai acuan dalam melakukan aksinya. 

6. Membuat Prioritas

Orang yang produktif tidak akan pernah kehabisan rencana kegiatan. Justru mereka akan memiliki banyak sekali kegiatan yang harus dikerjakan. Mengidentifikasi kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu akan membuat semua rencana terfokus. Banyak metode yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi dan menentukan prioritas yang harus dilakukan. Tanpa prioritas, banyaknya kegiatan hanya akan membingungkan hari demi hari tanpa hasil yang pasti. 

7. Menghindari Multitasking

Prioritas yang harus dikerjakan akan membuat fokus. Orang yang produktif tidak akan melakukan lebih dari satu kegiatan dalam satu waktu yang sama. Hal ini akan membuat gangguan, penundaan dan tidak jarang yang stres berlebihan. Oleh karena itu, bisakan memprioritaskan satu kegiatan dalam satu waktu, dan setelah berhasil dilakukan, lakukan kegiatan selanjutnya. 

8. Menentukan Batas 

Orang yang produktif tahu akan batas-batas dirinya sendiri. Mereka akan mengatur batas waktu, batas kemampuan, batas tenaga dan batas fokusnya. Sehingga dalam renana mereka akan ada waktu-waktu tertentu untuk beristirahat atau refreshing sesaat. Karena dalam pikiran yang tenang, badan yang sehat, kegiatan yang dilakukan akan maksimal.

9. Mendelegasikan dan Tersistem

Orang yang produktif pasti telah mengukur kekuatan dan kelemahan dirinya. Kegiatan yang sekiranya tidak mendesak atau tidak membuthkan kehadirannya, mereka akan mendelegasikannya. Tentu saja mendelegasikan orang harus pula membekalinya dengan blueprint atau pengetahuan yang cukup. Sehingga alur menuju target yang telah direncanakan tersistem dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. 

10. Menanyakan Pertanyaan Penting

Pertanyaan seseorang mencerminkan seberapa potensial dan inteleknya seseorang. Seperti kata Stephen Covey, "You cannot ask a question outside your field of knowledge. That's why a person's question reveals the level of their understanding and their knowledge more than their answer to some other question."

11. Membangun Kebiasaan  Kunci

Orang yang produktif pasti memiliki kebiasaan kunci dalam hidupnya. Kebiasaan kunci adalah kebiasaan yang dilakukan setiap hari secara konsisten. Kebiasaan inilah yang menjadikan semangatnnya dalam mencapai target sesuai perencanaannya. Kebiasaan kunci ini misalnya : olahraga, membaca, review sesuatu dan lain sebagaianya. Kebiasaan ini menumbuhkan ranta positif dalam semua aktivitas hidupnya. 

12. Komitmen Perbaikan Berkelanjutan

Perbedaan yang sangat kentara antara orang yang produktif atau tidak terletak pada komitmennya untuk melakukan perbaikan diri terus menerus. Mereka tidak menutup kesalahan dan kelemahan, justru mereka mengidentifikasi dan mengakui. Kesadaran akan kesalahan dan kelemahan itulah kemudian dilakukan perbaikan agar lebih pandai, lebihcepat, lebih efisien. Merekan tidak malu untuk terus belajar baik dari mentor, ahli, mambaca buku, menghadiri seminar, kursus dan lain sebagainya. 


Jadi, ada dititik manakah Anda sekarang?

Ayao menjadi produktif. Mulai saat ini dan mulai dari diri kita sendiri. Siapa takut!


Kamis, 27 Agustus 2015

Lebih Susah Mencari Calon Ibu Dibandingkan Istri?

istri dan calon ibu
Sejatinya peran seorang wanita adalah sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu bagi anaknya. Mencari seorang istri ternyata jauh lebih mudah dibandingkan mencari seorang ibu bagi anak kita kelak. Apa Anda sepakat?

Mencari seorang istri berarti mencari wanita yang benar-benar sesuai dengan keinginan kita. Bisa jadi gambaran kita tentang wanita yang ideal berperan disini. Wanita yang cantik, tinggi, berkulit putih, langsing, muka cling, dan imajinasi tentang kecantikan wanita lainnya. 

Namun, apakah itu saja cukup untuk menjadikan keluarga kita bahagia?

generasi yang baik
Ternyata tidak. Menelisik lebih jauh, fungsi pernikahan tidak hanya sebagai pemersatu cinta, menghalalkan yang tadinya haram namun lebih jauh dari itu. Peran menikah untuk melahirkan generasi-generasi tangguh yang siap menjadi khalifah di bumi. Tentu kita tak mau bukan, anak-anak yang kita lahirkan kelak menjadi perusak bumi. Justru kita sangat berharap melalui anak-anak kitalah kemakmuran di bumi ini dapat tercapai.

Peran mulia itu tidak hanya bisa seketika terlaksana. Perlu perencanaan dan pemilihan yang matang. Salah satu hal yang penting adalah memilih pasangan yang baik dan bisa menghantarkan kita membina generasi yang lebih baik tadi.

Nah, kembali ke topik pembahasan. Mencari pendamping hidup harus benar-benar diawali dengan niat yang mulia. Tidak semata-mata karena nafsu syahwatnya saja. Tidak cukup seorang wanita menjadi istri yang baik, namun juga harus menjadi ibu yang baik.

Mencari calon ibu yang baik, menurut saya jauh lebih susah dibandingkan mencari istri yang baik. Seorang ibu yang baik dituntut memiliki ketrampilan ekstra untuk mendidik anak-anak kita dan membekalinya dengan ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk dunia namun juga akhiratnya kelak. 

Calon ibu seperti ini rela mengorbankan waktunya untuk sekedar lama berbelanja di mall, lama melakukan perawatan diri di salon dan memilih untuk meluangkan waktu sebanyak-banyaknya dengan buah hatinya. Maka, pendidikan bagi seorang calon ibu menjadi hal yang penting pula. Kesadaran akan perannya sebagai seorang ibu bagi anaknya mutlak diperlukan. Sekaligus menjadi seorang istri yang taat bagi suaminya.

Fenomena maraknya wanita cantik belakangan ini sepertinya perlu dibarengi dengan fenomena calon ibu yang baik. Jadi, cantik, menarik, smart dan rela menjadi pendidik terbaik bagi anak-anaknya. Tentu menjadi idaman bagi setiap pria yang mendambakan kelengkapan hidup.


But, nobodys perfect! Oleh karena itu, perlu adanya sinkronisasi antara pria dan wanita sebagai suami istri. Mengarungi bahtera kehidupan bersama dengan segala ombak dan angin kencang di setiap perjalanannya. Menjadi pegangan satu sama lain agar tetap kokoh, kuat berdiri menjalankan nahkoda kehidupan.

Pembahasan ini sesungguhnya tidak hanya dilihat dari satu sisi namun dua sisi dalam mata koin. Mencari calon ayah juga lebih susah dibandingkan suami? 

Oleh karena itu, sebelum menikah, mari luangkan waktu untuk belajar menjadi calon ayah dan calon ibu yang baik bagi anak-anak kita. Setidaknya bekal ilmu, pengetahuan dan pengalaman dari orang lain dapat kita serap, kita ambil sisi posisitfnya dan selanjutnya kita terapkan pada anak-anak kita. Tujuannya satu, ikut andil dalam melahirkan generasi yang lebih baik.

Rabu, 26 Agustus 2015

Perbedaan Level Ujian Manusia

life is a problem, really?
Setiap manusia pasti punya masalah. Sejak lahir hingga lanjut usia, manusia akan dihadapkan dengan berbagai masalah. Tentu masalah itu sesuai dengan usia, pola pikir dan kemampuan dari masing-masing. Sehingga, setiap orang akan mendapat masalah sesuai dengan porsinya masing-masing.

Masalah ini ibarat ujian. Ujian yang diberikan tentu sesuai dengan proses belajar masing-masing. Ada yang usianya sama namun pola pikirnya lebih dewasa.Orang seperti ini wajar jika mendapat ujian yang lebih berat dari rekan seusianya. 

hidup itu pilihan bukan?

Ujian ini lazim kita sebut dengan ujian kehidupan. Ujian ini mendorong kita untuk melakukan pilihan-pilihan secara tepat. Ujian kehidupan melahirkan proses belajar terus menerus sepanjang hidup ini. Jika kita tak lolos, maka jangan heran jika ujian itu bisa diujikan lagi pada diri diri kita. Hingga kita lolos ujian tersebut. 

Pernahkan, kita merasa sudah pernah melewati ujian lalu kembali menghadapi ujian yang sama? Bisa jadi pada ujian yang lalu kita tidak lolos. Nah, ayo ingat kembali saat sedang menghadapi ujian!

Jika kita berada di bangku sekolah, maka soal ujian tidak akan lepas dari materi yang diajarkan oleh bapak/ibu guru dan buku pedoman yang ada. Untuk ujian kehidupan ini berarti ada juga materi yang diajarkan dan buku pedoman yang harus dipelajari. 

Yep, buku pedoman itu adalah Al Quran dan Hadits. Lalu siapa yang mengajarkannya? Pastinya tuntunan kita, Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam. 

Artinya, apa yang diujikan dalam kehidupan sehari-hari ini ada jawabannya di dalam Al Quran dan telah diimplementasikan oleh Rasulullah. Rasulullah adalah contoh nyata penerapan ilmu yang ada di dalam Al Quran. Al Quran adalah pedoman sepanjang masa, untuk siapa saja yang mau mengamalkannya. Pedoman ini tak pernah usang oleh waktu, tak akan lekang oleh zaman. 

Lalu, apa kaitannya dengan judul diatas?
mempelajari Al Quran

Ternyata, perbedaan level ujian manusia itu menentukan peringkat kita dihadapan Sang Khaliq. Jika saat ini kita sedang menghadapi ujian yang lebih berat dari orang lain, maka kita berpotensi memiliki peringkat yang tinggi. Catatannya, kita harus lolos dari ujian tersebut.

Maka, jangan sampai kita tak pernah menjalankan apa yang ada di pedoman hidup (Al Quran) tersebut lantas kita tak mendapat cobaan yang berat lalu kita merasa bahagia. Ini perlu diwaspadai. Bisa jadi karena kita tak pernah mempelajari dan mengamalkan pedoman tersebut, lalu kita tak akan pernah diuji lagi. Jika ini yang terjadi, apa bedanya dengan kita sudah tak dihiraukan lagi. Waspada!

Di sisi lain, ada orang yang mempelajari dan mengamalkan pedoman hidup sekuat tenaga namun malah diberi ujian yang berat. Jika orang ini tetap istiqomah dan lolos dari ujian, maka jangan ditanyakan lagi peringkatnya. Pasti tinggi melebihi yang lain. 

Oleh karena itu, jangan heran jika orang yang sholeh pun pasti memiliki masalah dan ujian yang berat. Itulah mengapa ada perbedaan level ujian manusia. Untuk menguji mana orang yang benar-benar mempelajari dan mengamalkan apa yang ada dalam pedoman hidup sepanjang masa tersebut. 

pantaskah kita mengeluh dan berputus asa?
Lalu, seberapa beratkah ujian kita saat ini?
Pantaskah kita mengeluh dan berputus asa sedangkan, banyak orang lain yang sedang diuji dengan ujian yang lebih berat dari kita?
Ayo introspeksi untuk selalu meningkatkan kapasitas diri kita!

resep sabar
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

* ditulis sebagai renungan dan memberi semangat bagi diri sendiri yang sedang menghadapi ujian layaknya manusia yang lainnya. Ujian yang masih ringan dan tidak sepantaasnya mengeluh. 
* Semoga diberi kekuatan untuk melewati setiap ujian yang datang dan diberi kesempatan untuk terus mempelajari pedoman hidup sepanjang masa dan mencontoh suri tauladan terbaik.